Minggu, 04 September 2011

Romance of Adrielle Part 8

Aku mencium bau peperangan disini, benar saja sedetik kemudian wanita bernama Chira itu datang menemui lelaki itu. Namun ada kecanggungan dimatanya, ia mengambil jarak yang lebar dengan lelaki itu. Obrolannya juga tidak sebebas biasanya. Jelas saja dia memang bersalah atas masalah ini. Aku memakinya tapi percuma saja dia juga tidak mendengar. Ada kesenjangan diantara mereka, duduk seakan terpisahkan dua bentangan alam yang lebar saling diam seakan matahari yang memancar siang ini tidak dapat mencairkan kebisuan antara mereka berdua. Kita dibawah langit yang sama, cahaya yang sama namun seperti ada di dimensi yang berbeda. Aku sibuk memandangi mereka berdua, mataku bergerak mengawasi mereka berdua. Mereka tetap diam tidak saling memandang tetapi tidak saling mengacuhkan. Aku sudah tidak sabar mendengar pengakuan dari wanita yang juga menyimpan sejumlah arti. Aku menendang nendang pipi wanita itu agar berbicara sedikit kata maaf penjelasan kemarin. Namun sepertinya usahaku sia sia. Suasana tetap sama, tetap diam membosankan. Aku duduk terkulai menunggu perubahan hari ini. Tiba tiba Aku mendengar wanita itu bergumam membuka mulutnya. Dia enggan meminta maaf tapi dimatanya terdapat raut penyesalan. Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk bertanggung jawab atas peristiwa ini. Sebenarnya bukan dia yang sepenuhnya bersalah, yang salah hanyalah kebisuan diantara mereka bertiga. Andai saja suaraku cukup nyaring menguak semuanya. Wanita itu tak usah menyangkal harga dirinya untuk meminta maaf dan lelaki itu masih mempertahankan senyumnya pada tiga tahun silam bersama wanita berparas surga. Aku tetap pada pendirianku, tetap ingin menghakimi wanita bernama Chira itu yang memperkeruh keadaan ini.

“Aku tidak bisa tidur semalam, padahal kau tahu aku selalu dapat tidur dengan baik”. kata kata Chira itu memulai percakapan tadi seakan mencairkan sebongkah gunung es yang besar. Aku geram, siapa yang menanyakan dia tidur atau tidak tadi malam. Tetapi lelaki itu terlalu baik dia malah terlihat khawatir. Ingin aku meneriakinya hai bung itu hanya tipuan wanita semata yang ingin kau perhatikan. Tapi sekali lagi lelaki itu diam saja. Chira melanjutkan perkataannya “Aku tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dengan perpisahanmu tetapi aku juga sedih kehilangan senyumanmu lagi apalagi aku merasa aku juga menjadi penyebab hilangnya senyummu”. Aku menghentakan kakiku dengan gusar. Dia masih bisa berkata seolah olah semuanya bukan kesalahan dia, padahal aku yakin wanita ini menginginkan peristiwa ini terjadi dan ia akan memiliki lelaki itu dan menjadi pasangannya. Aku berani bertaruh, ia tak akan bisa memiliki lelaki itu. Mungkin saja ia bisa mendapatkan raganya tapi apakah ia bisa mendapatkan senyuman yang sama untuk wanita tiga tahun silam itu. Lelaki itu terlalu baik, ia tidak menyalahkan wanita itu malah ia hanya tersenyum seakan berkata tidak ada yang salah dengan semuanya berbeda denganku yang sekarang sedang menahan diri untuk tidak menarik rambut wanita itu. Chira mendesahkan nafas dan mencoba memberikan solusi dan bersedia bertanggung jawab atas kesalah pahaman ini. Aku hanya mencibir, sepertinya dia hanya ingin mengambil hati lelaki itu agar lelaki itu berpaling padanya. Segala perkataan darinya aku hanya pandang remeh karena menurutku yang dia inginkan hanya satu yaitu lelaki itu. Suasana kembali diam dan aku kembali duduk diatas bahu wanita itu dan tetap menendang nendang bahu wanita itu. Tiba tiba saja wanita itu bangkit dan lelaki itu menatap ke arahnya. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan hubungan kalian”. Lelaki itu tetap diam, tetapi matanya seakan bertanya hal apakah itu. Chira tersenyum tapi aku menangkap kegetiran didalamnya. Benar benar sulit untuk ditebak “Aku tahu chelle cemburu denganku, walaupun aku tidak secantik dia. Tapi aku yakin dia salah paham dengan ini semua. Dia hanya tahu aku dekat dengan mu. Tapi dia tidak tahu tentang keadaanku sekarang. Dia tidak tahu bahwa aku seorang Lesbian”. Aku seketika berdiri dan menatap lekat lekat wanita itu, tidak ada nada bercanda didalam kata katanya...


Lesbian..apakah benar kebenarannya atau hanya penyelesaian semata..apakah menjelaskan kata itu..keadaan akan menjadi membaik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar