Minggu, 04 September 2011

Romance of Adrielle Part 12

Surat Ungu dari Chelle

“Selamat malam matahariku, semoga kamu masih ingat sebutanku untukmu.. Ya ternyata aku bukan hanya membutuhkan matahari disiangku, dan bintang di malam malamku ternyata aku membutuhkan kamu dihari hariku. Aku baru menyadarinya sedetik setelah kau mematikan telepon malam itu. Tahukah kamu aku menangis setelah aku kehilangan suaramu. Aku tahu aku terlalu bodoh untuk menangisimu dan aku menyadari aku harus hidup tanpamu setelah 3 musim ini menggantungkan masa depanku bersamamu. Aku berpura pura tegar dan menerima keputusan darimu. Tahukah kamu aku sangat mencintaimu tetapi aku juga wanita yang kuat berpura pura baik baik saja setelah kamu pergi berpura pura bahagia walaupun tidak ada kamu di sampingku, tapi tahukah kamu aku sakit menerima ini semua karena terlalu mencintaimu aku menerima segala keputusanmu. Aku terlalu malu untuk berkata aku tidak ingin pisah darimu, karena sepertinya kamu ingin berpisah denganku. Aku tak tahu apa kesalahanmu padamu sebetulnya aku ingin sekali mempertahankanmu tetapi mengapa tidak ada usaha darimu mempertahankanku..Tahukah kamu setahun ini aku sibuk membenahi hatiku, menghilangkan kamu dihatiku tetapi itu sangat susah. Kamu terus saja menghantuiku, kamu masih memberiku semangat, menanyakan kapan aku masuk kuliah, masih seperti yang dulu. Aku ingin membalasnya sayang, aku ingin kembali padamu. Tapi aku takut salah mengartikannya, aku takut kau hanya menganggapku sebagai teman masa lalumu. Aku tahu kamu memang lelaki yang baik dengan semua orang. Aku takut membalasmu, aku takut membaca semua kiriman pesan darimu, aku takut mengingat semua hal tentangmu karena aku takut jatuh cinta padamu lagi. Jadi bukan berarti aku melupakanmu karena tidak mau membalas twiter, pesanmu tapi karena aku terlalu mencintaimu dan takut jatuh cinta lagi padamu. Kalau boleh aku berkata dan mengemis aku mau kembali dan mempertahankan lelakiku 3 tahun lalu. Tapi aku telah kehilangan adriku 3 tahun yang lalu, aku sedang mencarinya kalau kamu bertemu dengan Adri 3 tahun lalu sampaikan aku mencarinya dan menunggu disini. Oya, masih ingat pertemuan kita di Mall itu, aku membuang mukaku saat kau tersenyum padaku. Bukan karena aku membencimu tapi karena aku pasti akan jatuh lagi setelah melihat senyummu. Terlihat roman picisan tapi itulah kenyataannya. Tahukan kamu tubuhku menggigil setelah melihat wanita disebelahmu. Aku ingin sekali menangis tapi demi kata wanita kuat aku menahannya setengah mati, aku berusaha berjalan dengan cepat tapi seakan sulit sekali kau keburu melihatku. Tetapi mengapa kamu hanya tersenyum, seakan memamerkan kamu sudah melupakan aku. aku membuang mukaku dan berjalan meninggalkanmu sebenarnya aku ingin kau mengejarku dan berkata dia bukan wanita yang menggantikanku. Tetapi kau tetap disana bersama wanita itu. Tahukah kamu bagaimana sakitnya. Harga diriku sebagai wanita hancur karena kamu lebih memilih dia. Aku mau gila sayang aku mau gila karena mu. Tetapi kenapa kamu tidak menyadarinya. Aku sangat membenci wanita disampingmu itu, aku ingin mencabiknya membuatnya merasakan bagaimana yang aku rasakan. Sampai pada kemarin aku bertemu dengannya. Karena dialah yang membuatku berani mengatakan segala kelemahanku dan aku tahu bagaimana keadaanmu setelah malam itu.

Adri, berkat wanita itu aku tahu betapa kamu mencintaiku, namun telah terjadi kesalah pahaman diantara kita, karena keangkuhanku dan keras kepalamu. Dan lewat ini kamu tahu alasan aku mengacuhkanmu selama ini, karena cintaku padamu terlalu besar untuk mengijinkan kamu bahagia dan karena harga diriku sebagai wanita aku mencoba mengenyahkan perasaan ini. Tetapi sepertinya usahaku sia sia sampai hari ini aku menulis aku masih sangat membutuhkanmu. Sebetulnya aku terlalu malu untuk mengungkapkan semua ini, tapi aku mengenyahkan segala egoku untuk memperjuangkan cintaku. Terima kasih untuk wanita itu yang membuat aku sadar aku perlu memperjuanganmu. Aku mau hidup sekali lagi buat kamu. Tapi sepertinya kamu juga harus berjuang sedikit untukku. Besok pagi aku akan pergi ke Paris karena orang tuaku khawatir akan keadaanku setelah kepergianmu. Aku setuju saja karena aku ingin membuang segala kenanganku denganmu. Tetapi setelah pertemuanku dengan wanita itu aku bimbang dengan keputusanku pergi ke Paris. Kalau kamu besok datang dan membujukku untuk tidak pergi aku akan membatalkannya semuanya. Jadi aku tunggu keputusanmu besok pukul 8 pagi di bandara terminal 2. Aku mau melihat perjuanganmu untukku. Menurutku menulis surat ini adalah perjuangan besarku untukmu dengan mengesampingkan semua egoku. Bagaimana denganmu. Kebahagianku yang terbesar adalah ketika kamu datang dan bilang padaku jangan pergi."

Yang selalu mencintaimu

Chele

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar