Minggu, 04 September 2011

Romance of Adrielle Part 10

“Sepertinya aku hanya membuang waktuku hanya dengan diam disini tanpa arti tanpa rasa tanpa hasil” aku baru kali ini mendengar suara dari wanita yang bernama Chele itu, terus terang dan diberi tekanan pada setiap lafalnya. Benar benar berbeda dari wajahnya yang memancarkan keteduhan. “Kau kira aku tidak membuang waktuku hanya untuk bertemu denganmu, kalau bukan karena ingin melihat dia tersenyum aku tidak akan sudi merendahkan diriku mencari waktu bertemu denganmu ciiih”. Duduk berhadapan namun dalam sudut pandang yang berbeda, Chele sedari tadi memandang keluar dan chira memandang kebawah sembari memainkan ujung kukunya. ‘’Aku tidak akan bisa membuatnya bahagia, kamu saja yang membahagiakannya ambil dia kalo memang kamu mau aku sudah tidak membutuhkannya, maaf tapi sepertinya aku sudah tidak ada waktu hanya untuk memperebutkan lelaki lemah seperti dia ” Chele menghentakan kakinya meraih tasnya untuk pergi. Aku minggir terkejut melihatnya, memang manusia akan menunjukan karakter aslinya apabila dibawah tekanan. Chira terlihat tenang tapi wajahnya tak kalah tegang, ia menghembuskan nafas dan berkata pelan namun penuh sarkastisme didalamnya “Aku tak habis pikir mengapa Adri mencintaimu seperti orang kesurupan, hingga kehilangan senyum terbaiknya dan membuatku harus datang disini berlaku seperti malaikat kesiangan untuk menjadi penyambung cinta diantara kalian. Aku datang kesini bukan karena aku mencintai atau menginginkan lelaki mu tetapi karena aku tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang itu tetapi orang yang dicintai malah mengabaikanmu. Tapi sepertinya Adri salah memilih tempat untuk menanamkan cintanya, cintanya jatuh ditempat yang salah menyebabkan akar yang sudah dalam jatuh terinjak injak dan nyaris busuk, bahkan lesbian sepertiku juga tidak akan pernah jatuh cinta kepada dirimu”. Aku mengerjap kerjapkan mataku dan memukul kepalaku seakan tak percaya akhirnya Chira mengatakan hal itu, Chele juga seakan tak percaya terhadap pendengarannya ia mematung dan menatap Chira yang hampir menangis. Chira terlihat berusaha menahan air matanya di udara, padahal menangis bukanlah hal yang lemah. Wanita yang kuat adalah wanita yang berani menjatuhkan air matanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Chele berbalik dan duduk, Chira tetap mematung disana suasana kembali diam tapi ada rasa hangat dibalik semuanya. “Chira, kau benar aku terlalu cemburu dan aku tahu kan apa arti cemburu itu, sekarang apa yang kamu mau” . Ahh… Aku bergumam dalam hati sepertinya masalah ini akan selesai dengan bahagia. Aku menghembuskan nafas lega dan membayangkan tugasku berakhir dengan sempurna.

Rumah lelaki itu diketuk, dan sepertinya aku bisa menebak siapa tamu di luar itu. Aku buru buru menyamai langkah lelaki itu membuka pintu, tercium aroma parfum yang khas dari lelaki itu. Ups..kenapa aku malah memperhatikan parfumnya seharusnya aku lebih berkonsentrasi menebak apakah lelaki itu akan tersenyum lagi setelah melihat tamu diluar itu. ada apa dengan otakku..Pintu dibuka nafasku seakan berhenti berdetak.


Apakah benar kisah ini akan berakhir dengan bahagia atas bantuan wanita bernama Chira..siapa gerangan yang datang mengunjungi rumah lelaki itu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar