Minggu, 20 Februari 2011

suatu pagi di loby mall

Saat terduduk dibangku mall
masih jam 9 pagi
menunggu pintu mall dibuka
aku seperti orang miskin
diusir satpam sana sini tak boleh masuk
berjalan terus dari pintu kepintu
akhirnya menemukan sebuah persinggahan juga
harta karun gumamku
kutaruh printer disebelah, merenggangkan otot tanganku
mencoba menunggu dg sabar
walau ingin sekali menyobek mulut para satpam itu
ku hitung menit kulirik detik
kenapa lama sekali
aku bosan seperti sudah seharu
kucoba membunuh waktu
mengamati orang yang bernasib sama denganku
Dan mataku tertuju
pada seorang ibu muda cantik
sedang hamil dan membawa anaknya
bukan tertarik pada anaknya
tapi aku sibuk menerka akan kisah wanita itu
tergopoh-gopoh turun dari angkot
membawa tas anaknya dan perut besar dibadannya
mukanya yang cantik dipoles seadanya
dengan blush on dan lipstik murahan
kulitnya yang putih mulai tercampur dengan sengatan matahari
tak mengeluarkan cahaya lagi
andai saja dia mau bertahan dan memilih cinta
sudah dipastikan dia tak begini
dengan parasnya yang cantik
dia tak mungkin naik angkot dan menunggu diluar bersamaku
dia akan menunggu dalam mercy yang lengkap dengan supir yang membukakan pintu
kulit cantiknya tidak mungkin dibasahi keringat
tak mungkin membawa bawaan dan menggandeng anak sendiri
karena pasti ada banyak pembantu yang membawakannya
Andai saja dia mau berfikir masak-masak dan tidak kalah dengan apa yang bernama cinta
masih banyak pria yang memuja cintanya
atau menjadi sekretaris cantik yang dipuja bosnya
semua rela memberikan apapun untuk mendapatkannya
andai dia tahu kehidupannya sekarang
mungkin dia mengutuki apa yang bernama cinta
aku menghadiahkan senyumku padanya, turut merasakan kesedihannya
Dia membalas senyumanku seakan berkata "kau benar Avrenita"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar