Kamis, 09 Juni 2011

Romance of Adrielle Part 2

Langkahnya terhenti pada suatu tempat. Bau khas menyusup dalam indra penciumanku menggelitik untuk mengetahui tempat apakah ini, banyak rak rak tersusun rapi didalamnya dan sejumlah tumpukan kertas tersusun rapi didalamnya. Aku mencium kertas itu dan merasakan baunya. Aku kini tahu dari mana bau ini berasal dan aku berguman ternyata seperti ini bau buku baru. Dan aku kembali mencari lelaki itu, aku masih belum menemukan jawaban pasti mengapa dia terlihat gembira datang ketempat ini. Apakah hanya demi mencium bau buku baru ia tampak bahagia seperti itu. Aku mengamatinya tanpa ia menyadari ada aku disampingnya. Senyumnya terlihat mengembang lebih jelas tersirat menutupi ketegangannya. Aku mendongak melihat kearah ekor matanya melihat. Aku menangkap gambaran gadis kecil sangat cantik. Dia sangat cantik bahkan aku sempat befikir apakah ada malaikat tak bersayap. Mukanya melambangkan surgawi putih bersih tak bercacat. Pantas saja lelaki itu terlihat sangat gembira dan terlihat ada cinta dimatanya. Sekarang aku tahu apakah arti sorot matanya, sorot mata yang membuatku penasaran. Matanya penuh dengan cinta. Ternyata dia sama seperti yang lain ketika jatuh pada pelukan cinta. Sepertinya pertanyaanku terjawab juga dan sepertinya aku harus meninggalkan kisah ini, karena menurutku kisah ini akan berakhir dengan sama seperti yang lainnya. Menikah dan hidup berbahagia. Dan sayapku membawa aku terbang mencari sesuatu yang lain selain kata cinta.

Daun ini mengaggetkan lamunanku, aku tersadar selama ini aku belum menemukan hal yang menarik lagi selain pertemuan siang itu. Entah apa yang membuatku tertarik sampai hari ini. Padahal itu hanya sebuah pertemuan biasa. Pertemuan dua insan manusia karena satu kata yang terangkai dalam oleh lima kesendirian namun berarti satu. Aku kembali duduk diranting pohon plum menanti apakah ada keajaiban yang datang lagi kali ini. Mengayunkan kaki dan sedikit bersenandung pekerjaanku setiap hari. Sungguh membosankan benar. Sekelibatan aku melihat bayangan pemuda itu lagi, pemuda tiga tahun silam tetapi dengan raut yang berbeda tidak ada senyum dirautnya. Mukanya kelabu seperti kaus yang digunakannya. Aku bersorak dalam hati, bukan senang karena melihat kesedihannya namun aku sepertinya akan mendapatkan pekerjaan baru. Mengetahui mengapa dia bersedih, apakah itu hanya lelah telah melewati hari yang susah ini, atau apakah itu karena cinta yang dapat membuatnya tersenyum tetapi juga bisa membuatnya menangis, atau kehilangan seseorang yang dicintai atau atau atau.. pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut dan memenuhi pikiranku. Aku segera terbang menghinggapi bahunya menemani dia berlari membelah senja itu.

Peri itu menemukan kembali lelaki yang dilihatnya tiga tahun silam, namun tak ada senyum yang sama yang dicarinya. ada apa dengan lelaki tersebut?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar