Sabtu, 14 Mei 2011

Untuk temanku dikaki gunung

Kita yang selalu memandang awan jauh di depan sana selalu gelap. Cemas kalau-kalau kita tak cukup kencang berlari menghindari hujan. Dan kita selalu basah kuyup, menyelamatkan sisa-sisa baju kering untuk baju ganti nanti. Sebenarnya aku yang bodoh atau memang kita semua bodoh. Belum pernah aku pulang melewati mendung tanpa kehujanan. Lalu kamu tertawa mencemaskan aku, kalau kalau hujan datang mengikisku habis tak bersisa. Dan di tengah tengah hawa dingin belantara kita selalu tertawa. Bolak balik memeriksa apakah jari jariku masih utuh, kepalaku masih berbentuk. Sedangkan aku menggigil kedinginan. Kalian tentu tau, aku tak terbiasa berbalut air seperti itu.

Pernahkan kamu berfikir Kenapa kita tak berangkat saat siang saja, saat terik matahari masih perkasa mengusir awan awan tebal. Lalu tawamu semakin keras. Mencemaskan kalau kalau jari jariku mengering dan terlepas satu satu karena tanganku tak bisa merekat saat terik.
Jawaban selalu datang setelah tanya, setelah menahan rindu yang dalam dia selalu datang. Seperti datangnya gerimis sore hari kepada terik siang hari. Menjinakkan debu-debu yang berterbangan lembut di sela-sela semilir angin. Menjadikan tanah yang kering menjadi basah dengan aroma hujan, seperti yang terjadi di hutan-hutan jati. Hutan yang selalu kita lalui di sepanjang perjalanan pulang dari kaki gunung. Kita yang bodoh, selalu pulang saat sore menjelang. Padahal kita tau setiap ada pertanyaan akankah hujan sore nanti pasti datang jawaban, akan selalu hujan sore nanti. Karena kita adalah orang-orang yang mencintai hujan di sore hari.

Untuk temanku di kaki gunung sana. Sampaikan salamku padanya, sampaikan betapa aku rindu padanya. Rindu yang mengendap seperti endapan kopi. Rindu yang mengental seperti getah karet. Rindu yang pekat seperti kabut pagi itu. Pagi aku menyaksikan bayangan gunung di arah aku bangun tidur. Sampaikan padanya di ujung pendakian gunung. Sampaikan bela sungkawaku pada sedih yang selalu datang. Semoga ia mendapat tempat paling mulia di puncak gunung. Di bawah langit biru dan di atas lautan awan. Selalu ditemani senang dan bahagia selalu, sepanjang waktu. Setiap waktu. jangan takut pada mendung karena mendung menandakan akan ada hujan dan mengantarkan pelangi yang indah dilangit kita.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar