Selasa, 02 Oktober 2012

mengeja isyarat aku, kamu yang tidak akan pernah dapat menjadi kita

-Teruntuk seseorang yang selalu marah padaku
ik mis je-

Pagi ini..masih berkabut..aku masih mencoba katupan mata.. 
pikiranku sudah berpendar kemana-mana..tapi yang kutemukan hanya sepi..
Tidak seperti kemarin..tidak seperti pagi yang lalu..karena kamu..
menghilang seperti kabut.. meninggalkan setitik air yang menghangat..berbeda dengan embun yang menyegarkan daun..
tetapi kau meninggalkan sejentik air yang menghangat dipelupuk mata..

Pagi ini..masih berkabut..aku coba membuang kebiasaan itu..kebiasaan yang menyebalkan sewaktu aku masih bersamamu..tetapi sekarang ada setitik rindu yang terbangun namun sadar kamu sudah lenyap..
aku mencoba untuk mengkira-kira apa yang kamu lakukan pagi ini.. apakah masih sama seperti biasa atau kamu melakukan hal yang lain..
kamu sering berkata jangan suka mengira, menggunakan kontemplasimu saja..tapi kamu harus tau..inilah aku..hidup dengan membayangkan..tanpa berani bertanya langsung padamu..sedang apakah kamu pagi ini sayang..

Apakah kamu..
duduk menghadap jendela kamarmu yang terbuka. pikiranmu menerawang sambil menutup mata. membiarkan pohon dan udara haru menyaksikan hari-hari lampau bergetar di jari-jari, lengan, dan bahumu..memikirkan aku..
sayang, kamu bukanlah aku..tidak ada sedikitpun aku dalam rongga kepalamu..tidak seperti aku yang menghabiskan waktu..memikirkan sedang apa kamu dikamarmu..apa kamu mengingatku..apa warna piyamamu hari ini..apa kamu memimpikan aku..

ataukah pagi ini kamu..
mandi dan menangis merasakan air kedinginan dan kesepian luar biasa, seperti sayupan rindu  pohon-pohon kepada daun-daunnya yang hanyut di air kali dan tersangkut entah di mana sambil meresahkan aku dalam kejauhan ini..
sayang, kamu bukanlah aku..tidak ada sedikitpun aku bahkan dalam aliran air mandimu..yang kamu pikirkan bagaimana aku tidak terlambat hari ini..tidak seperti aku yang menangis dalam diam gemericik air hangat dan sabun tidak bisa menyembunyikan rasa kehilanganku padamu..sebelum dan sesudah ini akan sama saja..sepi..karena tidak ada kamu..

atau asumsiku benar pagi ini kamu
belum bangun dari tempat tidur dengan selimut penuh buah ceri yang kuak di bagian dada. di langit-langit kamarmu, neon yang  belum tidur kau bayangkan mataku yang memendarkan kenangan..
sayang, bahkan warna selimutmu akupun belum tahu..aku ingin bertanya..namun kamu tidak mau menjawabku..tidak mau mengenalku lagi..aku terlalu berharap..mendengar kisahmu seharian..mengeluh padaku..menceritakan separuh bebanmu..aku rela aku rela mendengarkannya..tapi bahkan kenangan itupun tidak ada..tidak ada wajahku di lampu tidurmu..tidak pernah ada

atau, kalau aku boleh berharap
bermimpi kamu sedang duduk membuka computer, membaca puisi ini, dan menemukan kita pada setiap kata, dan kau tersenyum.. menemukan kisah kita dalam tulisanku..dan tahu siapa aku dan siapa kamu..
sayang, itu cuma harapan..bahkan mengingat namaku saja membutuhkan waktu 3 menit..tidak seperti aku yang selalu terkena elektra menyengat setiap saja melihat namamu..


aku tahu kita ada dalam dunia yang berbeda..
sehingga aku dan kamu tidak bisa menjadi kita..
tapi aku minta..
bolehkah aku memunguti setiap kenangan yang ada dan menyatukan dalam bingkai..
setelah itu aku akan kunci dan kubuang kuncinya itu jauh jauh..
supaya tidak ada lagi kita..yang ada hanyalah aku yang tidak tahu siapa itu kamu..



-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar