Rabu, 27 Juli 2011
Rapat Kerja BEM
Rabu, 22 Juni 2011
OH MY GOD, I'm falling in love with you
When you love someone1. Willing to stay up late just to chat with him2. Willing to meet him with your best dress3. Willing him with doesnt matter what people say bad things about him4. Willing to spend your account just for give something to him, or buy dress to have dinner with him5. Willing to smile everyday when read or hear anything about him6. willing to move on and forgeting your first love7. willing to think hard just to reply his jokesAnd I think I falling in love with you....
Romance of Adrielle part 4
Hahahha..aku tertawa..kau mengira aku jatuh cinta pada lelaki itu.. aku tertawa sampai bahuku terguncang...pertanyaan retoris terlucu yang pernah aku dengar...Jangan mengira aku jatuh cinta padanya. Aku hanya sebatas membaca wajahnya. Kita tidak saling mengenal daun aku hanya mengira-kira dari wajahnya saja. Hanya sebatas kemampuanku menilainya dengan mengukur senyumnya dan menatapnya dari sini tanpa disadarinya. Aku juga tidak akan membiarkan aku jatuh pada pusaran kelembutannya yang tegas namun menghanyutkan. Karena kita ada didunia yang berbeda sekarang. Mungkin aku bisa melihatnya dan mengamatinya namun dia tidak pernah melihat keberadaanku disini. Aku tidak marah atau mengumpatnya, karena memang ini sudah alurnya. Tidak mungkin seorang peri berjodoh dengan manusia. Aku tidak mau mencoba dan tidak mau berharap. Mungkin takdir seorang peri seperti diriku ini adalah membantu manusia mencari cinta sejatinya untuk menggenapi takdir hidupnya. Aku pastikan tidak akan jatuh cinta dengan dia, karena menurutku cinta hanyalah pikiran semata yang menyuruh hati untuk mencintai seseorang. Jadi kalau tidak memikirkannya sebagai sebuah tambatan cinta aku tidak akan pernah mencintai dia. Lagipula aku tahu didalam hatinya hanya ada satu wajah yaitu gadis tercantik disiang hari itu.
Aku bertekad untuk mengamatinya seharian ini. Mengetahui apa penyebab kegundahan hatinya dan juga aku ingin melihat gadis itu sekali lagi. Aku rindu sekali melihat kecantikannya yang walau siang itu hanya terlihat sekilas. Aku ingin melihatnya secara dekat dan meneliti setiap jengkal pesona wajahnya. Dengan semangat aku tebang mengikuti kemana langkahnya pergi. Langkahnya terhenti, senyumnya tersungging namun bukan senyum yang sama yang aku lihat tiga tahun lalu. Senyum yang ditarik seadanya hanya untuk menghormati temannya. Aku mencari kearah mana senyum itu tertuju. Ada seorang gadis yang membalas senyumannya dengan lambaian tangan dan senyum yang lebar. Tetapi bukan gadis yang aku cari, gadis manis pada siangku 3 tahun silam. Otakku kembali berputar siapa gadis ini....
Kamis, 16 Juni 2011
Waiting for Romance of Adrielle series
in the end of december,
quiet nights,
quiet stars..
and i'm here
Monday to Sunday,
cause you're fragile
and i'm weak
So you fall
when the nights grow longer
into sleep
you won't wake up
And i'm here
i'm sitting beside you
and i'll wait
until the spring
Don't you worry
i'll be there for you
don't worry about me
you know me better than that
don't you worry
i'll be there for you
i'll catch you if you would fall
So you drift
when the days grow colder
away from me
and won't look back
far away and i can't guide you
but i'm here
'til the spring
Senin, 13 Juni 2011
Romance of Adrielle Part 3
Setetes embun membangunkan dari tidur indahku. sinar matahari menyembul menyilaukan penglihatanku. aku mengerjap-kerjapkan kedua mataku, menggerutu dan menendang daun daun disitu. Tetapi kekesalanku terhenti melihat lelaki itu keluar dan mengeluarkan motornya. Aku segera terbang kearahnya dan aku mencari wajahnya, tapi hanya menemukan wajah kelabu seperti kemarin. Jelas bukan menunjukan kelelahan yang dapat dihapus oleh istirahat semalam namun karena ada satu alasan yang membuat hari-harinya terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya seperti buku menurutku, sangat menarik untuk dibahas dan ditelaah karena menyimpan banyak misteri didalamnya. Terkadang menyiratkan keteduhan hatinya, terkadang menyiratkan kepedihan yang dalam. Hatinya seperti samudra yang mendalam, butuh sedikit keberanian untuk menyelaminya bukan hanya berkecipak dalam permukaannya. Matanya tercemin seperti pelangi, pelangi yang mengandung banyak warna. Banyak piasan warna yang menyusunnya membentuk keindahan juga harapan. Ada juga matahari senja dan bintang bintang malam pada tatapan matanya. Menghanyutkan dan membuat penasaran. Seadainya ada yan bertanya mengenai mata siapa yang paling indah yang pernah aku lihat. Dengan tegas aku menjawab matanya. Telinganya aku yakin adalah telinga yang paling cantik. Bukan karena bentuk daunnya tapi karena kamu seorang pendengar yang baik. Sehingga berbicara denganmu adalah salah satu obat pelipur lara. Karena aku tau, dia selalu mendengarkan sepenuh hati. Tak pernah menampakkan wajah bosan atau meremehkan. Dan dia mendengarkan semua hal yang baik. Aku masih membayangkan, dia memiliki selera musik yang bagus. Mendengarkan curahan hati sahabatnya, tentang putus cinta atau tentang patah hati lalu cemburu bahkan pertengkaran. Senyumnya seperti kembang api yang membuncah ke angkasa, berani bertaruh senyumnya menularkan senyum untuk semua orang yang memandangnya membunuh semua dendam yang menyembul dalam hati. Apakah dirinya tahu betapa ajaibnya senyumnya yang kini sedang hilang entah kemana.
Apakah peri itu mulai jatuh cinta dengan lelaki itu dan, Apakah sang peri mampu mendapatkan misteri akan pertanyaan batinya sendiri?
Kamis, 09 Juni 2011
Romance of Adrielle Part 2
Romance of Adrielle Part 1
Hasil menggabut di DepDag
Sabtu, 04 Juni 2011
Bukan cerita dongeng
Rabu, 01 Juni 2011
Selasa, 31 Mei 2011
Matahari bintang dan kamu
I need sun in my sky..I need star in my night..but I need you in every second i breath...
Sabtu, 14 Mei 2011
Untuk temanku dikaki gunung
Jumat, 13 Mei 2011
we called it GLOW but more than it




Adrian
Selasa, 03 Mei 2011
lazuardi sederhana bernama dia
Jumat, 01 April 2011
I love you, Nyo
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.
Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.
Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. .."Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata- kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
