“Sepertinya aku hanya membuang waktuku hanya dengan diam disini tanpa arti tanpa rasa tanpa hasil” aku baru kali ini mendengar suara dari wanita yang bernama Chele itu, terus terang dan diberi tekanan pada setiap lafalnya. Benar benar berbeda dari wajahnya yang memancarkan keteduhan. “Kau kira aku tidak membuang waktuku hanya untuk bertemu denganmu, kalau bukan karena ingin melihat dia tersenyum aku tidak akan sudi merendahkan diriku mencari waktu bertemu denganmu ciiih”. Duduk berhadapan namun dalam sudut pandang yang berbeda, Chele sedari tadi memandang keluar dan chira memandang kebawah sembari memainkan ujung kukunya. ‘’Aku tidak akan bisa membuatnya bahagia, kamu saja yang membahagiakannya ambil dia kalo memang kamu mau aku sudah tidak membutuhkannya, maaf tapi sepertinya aku sudah tidak ada waktu hanya untuk memperebutkan lelaki lemah seperti dia ” Chele menghentakan kakinya meraih tasnya untuk pergi. Aku minggir terkejut melihatnya, memang manusia akan menunjukan karakter aslinya apabila dibawah tekanan. Chira terlihat tenang tapi wajahnya tak kalah tegang, ia menghembuskan nafas dan berkata pelan namun penuh sarkastisme didalamnya “Aku tak habis pikir mengapa Adri mencintaimu seperti orang kesurupan, hingga kehilangan senyum terbaiknya dan membuatku harus datang disini berlaku seperti malaikat kesiangan untuk menjadi penyambung cinta diantara kalian. Aku datang kesini bukan karena aku mencintai atau menginginkan lelaki mu tetapi karena aku tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang itu tetapi orang yang dicintai malah mengabaikanmu. Tapi sepertinya Adri salah memilih tempat untuk menanamkan cintanya, cintanya jatuh ditempat yang salah menyebabkan akar yang sudah dalam jatuh terinjak injak dan nyaris busuk, bahkan lesbian sepertiku juga tidak akan pernah jatuh cinta kepada dirimu”. Aku mengerjap kerjapkan mataku dan memukul kepalaku seakan tak percaya akhirnya Chira mengatakan hal itu, Chele juga seakan tak percaya terhadap pendengarannya ia mematung dan menatap Chira yang hampir menangis. Chira terlihat berusaha menahan air matanya di udara, padahal menangis bukanlah hal yang lemah. Wanita yang kuat adalah wanita yang berani menjatuhkan air matanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Chele berbalik dan duduk, Chira tetap mematung disana suasana kembali diam tapi ada rasa hangat dibalik semuanya. “Chira, kau benar aku terlalu cemburu dan aku tahu kan apa arti cemburu itu, sekarang apa yang kamu mau” . Ahh… Aku bergumam dalam hati sepertinya masalah ini akan selesai dengan bahagia. Aku menghembuskan nafas lega dan membayangkan tugasku berakhir dengan sempurna.
Minggu, 04 September 2011
Romance of Adrielle Part 10
Romance of Adrielle Part 9
Aku bergidik ngeri memandang wanita ini, pada awalnya aku mengira dia menyukai lelaki ini tetapi ternyata aku salah. Benar benar misteri yang tak pernah terkuak, hatinya terlalu dalam untuk diselami dan dimengerti pikirannya.
Lesbian kata kata itu masih terngiang ngiang di telingaku. Ternyata senyum yang diberikannya pada lelaki itu murni senyum pertemanan. Senyum yang diberikan untuk teman yang sama bukan untuk menarik perhatiannya. Aku bergidik jika seandainya aku tidak kasat mata apakah Chira akan suka padaku. Ku tepis segala imajinasi liarku. Sekarang aku tahu dalam masalah ini kesalah pahaman adalah akar dari semuanya yang membuat seorang manusia kehilangan senyumnya. Hemph..sepertinya pada keadaan seperti ini aku harus berbuat sesuatu untuk meluruskan benang yang kusut ini. Aku mengepakan sayapku bergegas pergi meninggalkan lelaki yang sedari tadi berpandangan kosong, aku tahu dia sangat terluka, tapi dia malah sibuk meratapi kesedihannya tanpa mau berbuat apa apa untuk memperjuangkan wanitanya. benar benar lelaki yang keras kepala dan sulit untuk dipahami. Aku akan menemui wanita cantik itu, ya chele dia harus tahu kenyataanya. Mataku menyapu kesana kemari mencari wanita 3 tahun yang lalu, hanya mengandalkan ingatanku dan mencoba mencari diantara tumpukan manusia didepanku. Aku bersorak sayapku berkedut lincah menghampiri hasil temuanku, akhirnya aku menemukannya tapi dia sedang duduk dengan seseorang yang tidak asing menurut pandanganku. Ya wanita itu, apa yang dia lakukan batinku, apakah ini wujud pertanggung jawabannya ato wujud cintanya pada lelaki itu. Entahlah aku harus segera mendengarkannya. Lagi lagi semuanya membisu, dengan tatapan yang tidak bersahabat mereka duduk berhadapan seakan ingin memangsa satu sama lain.
Untuk apa Chira mendatangi wanita 3 itu, apakah masalah ini akan terurai dengan bahagia seperti yang diharapkan sang peri
Romance of Adrielle Part 8
Aku mencium bau peperangan disini, benar saja sedetik kemudian wanita bernama Chira itu datang menemui lelaki itu. Namun ada kecanggungan dimatanya, ia mengambil jarak yang lebar dengan lelaki itu. Obrolannya juga tidak sebebas biasanya. Jelas saja dia memang bersalah atas masalah ini. Aku memakinya tapi percuma saja dia juga tidak mendengar. Ada kesenjangan diantara mereka, duduk seakan terpisahkan dua bentangan alam yang lebar saling diam seakan matahari yang memancar siang ini tidak dapat mencairkan kebisuan antara mereka berdua. Kita dibawah langit yang sama, cahaya yang sama namun seperti ada di dimensi yang berbeda. Aku sibuk memandangi mereka berdua, mataku bergerak mengawasi mereka berdua. Mereka tetap diam tidak saling memandang tetapi tidak saling mengacuhkan. Aku sudah tidak sabar mendengar pengakuan dari wanita yang juga menyimpan sejumlah arti. Aku menendang nendang pipi wanita itu agar berbicara sedikit kata maaf penjelasan kemarin. Namun sepertinya usahaku sia sia. Suasana tetap sama, tetap diam membosankan. Aku duduk terkulai menunggu perubahan hari ini. Tiba tiba Aku mendengar wanita itu bergumam membuka mulutnya. Dia enggan meminta maaf tapi dimatanya terdapat raut penyesalan. Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk bertanggung jawab atas peristiwa ini. Sebenarnya bukan dia yang sepenuhnya bersalah, yang salah hanyalah kebisuan diantara mereka bertiga. Andai saja suaraku cukup nyaring menguak semuanya. Wanita itu tak usah menyangkal harga dirinya untuk meminta maaf dan lelaki itu masih mempertahankan senyumnya pada tiga tahun silam bersama wanita berparas surga. Aku tetap pada pendirianku, tetap ingin menghakimi wanita bernama Chira itu yang memperkeruh keadaan ini.
“Aku tidak bisa tidur semalam, padahal kau tahu aku selalu dapat tidur dengan baik”. kata kata Chira itu memulai percakapan tadi seakan mencairkan sebongkah gunung es yang besar. Aku geram, siapa yang menanyakan dia tidur atau tidak tadi malam. Tetapi lelaki itu terlalu baik dia malah terlihat khawatir. Ingin aku meneriakinya hai bung itu hanya tipuan wanita semata yang ingin kau perhatikan. Tapi sekali lagi lelaki itu diam saja. Chira melanjutkan perkataannya “Aku tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dengan perpisahanmu tetapi aku juga sedih kehilangan senyumanmu lagi apalagi aku merasa aku juga menjadi penyebab hilangnya senyummu”. Aku menghentakan kakiku dengan gusar. Dia masih bisa berkata seolah olah semuanya bukan kesalahan dia, padahal aku yakin wanita ini menginginkan peristiwa ini terjadi dan ia akan memiliki lelaki itu dan menjadi pasangannya. Aku berani bertaruh, ia tak akan bisa memiliki lelaki itu. Mungkin saja ia bisa mendapatkan raganya tapi apakah ia bisa mendapatkan senyuman yang sama untuk wanita tiga tahun silam itu. Lelaki itu terlalu baik, ia tidak menyalahkan wanita itu malah ia hanya tersenyum seakan berkata tidak ada yang salah dengan semuanya berbeda denganku yang sekarang sedang menahan diri untuk tidak menarik rambut wanita itu. Chira mendesahkan nafas dan mencoba memberikan solusi dan bersedia bertanggung jawab atas kesalah pahaman ini. Aku hanya mencibir, sepertinya dia hanya ingin mengambil hati lelaki itu agar lelaki itu berpaling padanya. Segala perkataan darinya aku hanya pandang remeh karena menurutku yang dia inginkan hanya satu yaitu lelaki itu. Suasana kembali diam dan aku kembali duduk diatas bahu wanita itu dan tetap menendang nendang bahu wanita itu. Tiba tiba saja wanita itu bangkit dan lelaki itu menatap ke arahnya. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan hubungan kalian”. Lelaki itu tetap diam, tetapi matanya seakan bertanya hal apakah itu. Chira tersenyum tapi aku menangkap kegetiran didalamnya. Benar benar sulit untuk ditebak “Aku tahu chelle cemburu denganku, walaupun aku tidak secantik dia. Tapi aku yakin dia salah paham dengan ini semua. Dia hanya tahu aku dekat dengan mu. Tapi dia tidak tahu tentang keadaanku sekarang. Dia tidak tahu bahwa aku seorang Lesbian”. Aku seketika berdiri dan menatap lekat lekat wanita itu, tidak ada nada bercanda didalam kata katanya...
Lesbian..apakah benar kebenarannya atau hanya penyelesaian semata..apakah menjelaskan kata itu..keadaan akan menjadi membaik
Romance of Adrielle Part 7
Malam ini sepertinya aku tidak bisa memejamkan mata. Aku kesal sekali dengan perempuan bernama Chira. Namanya saja sudah menunjukan betapa jahat perangainya. Hampir saja aku tertipu oleh gaya santainya, kepolosannya, dan kemandiriannya. Namun ternyata ia tetap penggoda lelaki. Aku dapat pastikan kalau Chira jatuh cinta pada lelaki itu, dari cara dia berbicara menatap dan memandang. Aku tidak pernah mengutuki orang yang jatuh cinta namun aku menghujat wanita yang mencari celah ketika sebuah hati sedang berlubang dan mencoba menciptakan senyuman yang pernah hilang. Tetapi sekali lagi aku tekankan untuk wanita yang bernama Chira aku dapat pastikan kau tidak akan berhasil menggantikan gadis malaikat dihati lelaki itu dan kamu tidak akan berhasil menciptakan senyum lelaki seperti dahulu. aku marah, marah sekali, aku menendang semua benda disekitarku membayangkan itu adalah wanita bernama Chira. Entah apa kesalahan Chira kepadaku yang jelas aku sebal padanya. Dia yang membuat lelaki itu kehilangan senyumnya kembali dan kembali masuk dalam senja kehidupannya. Aku bergeming dari tempatku sekarang melihat keadan lelaki itu setelah pertemuan senja tadi. Keadaan yang paling menyedihkan yang pertama aku lihat. aku berlalu dari pemandangan ini dan mengutuki wanita bernama Chira dan menarik pandanganku tentang dirinya tadi pagi yang menganggap dia adalah gadis paling menyenangkan yang pernah aku kenal. Tunggu aku besok, aku akan meminta pertanggung jawaban darimu, Chira. aku bersiap siap untuk tidur dan memikirkan segudang rencanaku untuk membantu lelaki itu.
Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Aku membasuh mukaku dengan embun yang menempel di dedaunan mencoba menghilangkan kantong mata yang menghitam. Pikiranku masih dipenuhi dengan kemarahan membuat aku bermimpi macam macam dan semuanya pasti sedang menyerang Chira. kalian pasti bertanya kenapa peri masih bisa bermimpi. Aku katakan ya pada kalian, mimpi itu penting tanpa mimpi kamu tidak tahu apa arti hidup hari ini dan tidak tahu untuk apa hidup esok hari. Tanpa mimpi kamu hanya tahu hidup hari ini saja, tanpa pencapaian, ikut arus dan sekedar bahagia saja. Tidak tahu disana ada sesuatu kebahagian lebih yang menunggu untuk kamu raih. Dan kalian tahu tidak kenapa mimpi datang saat kita tidur, karena mimpi itu keluar dari hati disaat kita tidak mengekangkan dengan pikiran kita. Disaat kita menenangkan dan mengesampingkan kemampuan kita disitulah mimpi akan hadir dalam pandangan kita. Setidaknya itu sedikit penghargaanku terhadap eksistensi sebuah mimpi. Lupakan masalah mimpi sekarang, lebih penting sekarang pergi mengikuti lelaki itu hari ini dan melanjutkan kisah ini.
Apa yang akan peri lakukan untuk membalas Chira..apakah benar Chira yang bersalah dalam masalah ini
Romance of Adrielle Part 6
Hari semakin senja, obrolan mereka terhenti ketika Chira ingin pergi ke sebuah Mall. Apa itu mall aku tidak tahu itu. Penasaran aku mengikuti mereka untuk melihat seperti apa Mall itu. Sepertinya aku sudah dapat membaca bagaimana sifat Chira dari obrolannya dengan lelaki itu. Dia terlihat seperti wanita yang sangat mandiri sampai sampai menolak untuk ditemani ke Mall. yah..memang nasib menjadi seperti peri sepertiku hanya menebak dan mengira saja. Untung saja lelaki itu memaksa untuk tetap menemaninya kalau tidak aku akan selalu penasaran dengan apa itu Mall. Aku menggelayut di bahu lelaki itu, hitung hitung menghemat tenaga daripada harus terbang terus kesana kemari lagipula tempat ini sangat ramai dan asing. Aku takut kehilangan mereka berdua. Ternyata mall itu tempat toko toko berkumpul, segenggam manusia juga berkumpul disini. Mungkin mereka ingin mencari sesuatu disini atau hanya sekedar berjalan jalan untuk menggelontorkan lemak yang bersemaram dalam tubuhnya. aku sibuk menyapukan pandanganku kesekelilingku mengamati pemandangan yang langka ini, banyak lampu berkelap kelip seperti bintang udaranya juga sangat dingin sampai menusuk tulangku. Setidaknya kalau saya sudah kembali ke nirwana, inilah yang bisa aku ceritakan pada temanku disana. Tentang pengalamannku mengunjungi sebuah tempat yang bernama Mall. Aku tersenyum sendiri membayangkan reaksi temanku yang penasaran ingin turun kesini untuk melihat seperti apa mall yang aku ceritakan. Mataku terus menyapu keseluruh penjuru ruangan ini, tiba tiba aku menangkap bayangan wanita cantik tiga tahun silam. Ya sepertinya itu Chelle, wanita yang selalu ada dipembicaraan lelaki itu, yang selalu ada dalam malam kelabunya, dalam isak tangis dan doanya. Aku tidak salah lagi, aku hapal benar dengan raut wajahnya walaupun hanya sekali saja bertemu dan walaupun dia lebih terlihat dewasa dan anggun sekarang. Aku berteriak dalam telinga lelaki itu, melompat-lompat dibahunya dan menendang nendang pipinya. Menyadarkan bahwa ada mata yang mengawasi dirinya bersama wanita bersama Chira itu. Tetapi usahaku tetaplah sia sia mereka tetap saja berjalan. Namun akhirnya lelaki itu menoleh juga dan menyapa gadis cantik itu mereka berpandangan kaku dan lelaki itu mencoba menyapa. Tapi gadis cantik itu membuang mukanya dan menghindari lelaki itu. Lelaki itu hanya memandang jauh dan kehilangan senyumnya lagi. Disampingnya aku melihat Chira dengan ragu ragu menepuk bahunya dengan raut muka yang tidak bisa diterjemahkan.
Sepertinya benang cinta mereka akan semakin kusut dengan kehadiran Chira dikehidupan Chele dan Adri, mampukah sang peri menguraikan kembali
Romance of Adrielle Part 5
Otakku kembali berputar siapa gadis ini, apakah lelaki ini tega meninggalkan gadis cantiknya hanya untuk cinta gadis ini. Seberapa menarik gadis ini. Membuatku lebih penasaran. Kenapa aku tidak bisa berbicara langsung dengan mereka. Membuatku harus berpusing pusing ingin tahu akan jati diri mereka. Siapa dia, mengapa dia pertanyaan bergejolak dikepalaku ingin segera diisi dengan jawaban.
Melewatkan makan siang bersama mereka, mendengarkan obrolan manusia yang cukup menyenangkan. Gadis itu bernama Chira, Lelaki yang selama ini kuamati bernama Adri dan gadis cantik 3 tahun silam itu bernama Chelle. Nama yang indah seperti gugusan wajahnya. Setidaknya baru itu yang aku mengerti dari obrolannya siang ini. Chira gadis yang menyenangkan walau wajahnya tak semanis selera humornya. Namun dia cukup menyenangkan untuk menjadi lawan bicara. Aku duduk dibahunya mendengarkan setiap ocehannya sesekali tertawa sampai bahuku terguncang. Aku melirik ke arah lelaki itu. Mungkin aku belum terbiasa memanggil Adri jadi aku tetap memanggil dia dengan sebutan lelaki. Dia tersenyum lebar namun tetap saja terlihat sedih seperti menggelayuti sesuatu. Aku dapat menebak siapa yang ada dalam pikirannya sekarang ini. Yang jelas bukan Chira yang sekarang sedang menaikan kakinya diatas kursi mengundang seluruh tatapan dari pengunjung ditempat ini. Namun setidaknya Chira tidak perduli dengan tatapan semua orang ia tetap asyik mengobrol dengan lelaki itu sesekali. Mendengarkan obrolan mereka membuat hari hariku sedikit lebih indah. Aku mulai menyukai teman lelaki itu, dia energic walau tidak cantik percaya dirinya membuat semua orang akan berhenti sejenak untuk melihatnya. Walaupun terkadang sedikit memalukan aku selalu melihat tawa dari seseorang di sekitarnya. Aku juga sedari tadi mendengarkan setiap obrolannya mencari celah apakah ada bagian yang lucu darinya dan ikut larut dalam tawa seakan aku juga dalam kalangan manusia. Dari ceritanya mengetahui ada masalah dengan hubungan lelaki itu dengan wanita cantik yang bernama Chelle. Seperti yang telah saya duga sebelumnya cinta yang menghapus senyum dibibirnya. Satu pertanyaanku terjawab sudah tetapi timbul banyak pertanyaan lain dihadapanku. Mengapa masalah datang diantara mereka, kelihatanya mereka saling mencintai, apakah ada hubungannya dengan wanita yang bernama Chira ini. Tetapi sepertinya tidak mungkin lelaki itu meninggalkan Chelle hanya untuk perempuan ini. Tetapi apakah Chira tahu dia tidak mungkin mendapatkan hati lelaki itu. Aku berharap Chira cepat menyadari kesalahannya apabila dia telah jatuh cinta di tempat yang salah. Aku tidak mau ada mutiara bening mengalir dari matanya yang berbinar apabila dia menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan.
Apakah sebenarnya hubungan lelaki itu dan wanita yang sekarang menemani hari harinya..Apakah dengan wanita itu ia telah melupakan gadis tiga tahun silam..
Jumat, 19 Agustus 2011
A Little Bit Stronger
Rabu, 17 Agustus 2011
Don't you remember
Minggu, 07 Agustus 2011
Brand New Avrenita
Oh My Chri*****eR
Rabu, 27 Juli 2011
Rapat Kerja BEM
Rabu, 22 Juni 2011
OH MY GOD, I'm falling in love with you
When you love someone1. Willing to stay up late just to chat with him2. Willing to meet him with your best dress3. Willing him with doesnt matter what people say bad things about him4. Willing to spend your account just for give something to him, or buy dress to have dinner with him5. Willing to smile everyday when read or hear anything about him6. willing to move on and forgeting your first love7. willing to think hard just to reply his jokesAnd I think I falling in love with you....
Romance of Adrielle part 4
Hahahha..aku tertawa..kau mengira aku jatuh cinta pada lelaki itu.. aku tertawa sampai bahuku terguncang...pertanyaan retoris terlucu yang pernah aku dengar...Jangan mengira aku jatuh cinta padanya. Aku hanya sebatas membaca wajahnya. Kita tidak saling mengenal daun aku hanya mengira-kira dari wajahnya saja. Hanya sebatas kemampuanku menilainya dengan mengukur senyumnya dan menatapnya dari sini tanpa disadarinya. Aku juga tidak akan membiarkan aku jatuh pada pusaran kelembutannya yang tegas namun menghanyutkan. Karena kita ada didunia yang berbeda sekarang. Mungkin aku bisa melihatnya dan mengamatinya namun dia tidak pernah melihat keberadaanku disini. Aku tidak marah atau mengumpatnya, karena memang ini sudah alurnya. Tidak mungkin seorang peri berjodoh dengan manusia. Aku tidak mau mencoba dan tidak mau berharap. Mungkin takdir seorang peri seperti diriku ini adalah membantu manusia mencari cinta sejatinya untuk menggenapi takdir hidupnya. Aku pastikan tidak akan jatuh cinta dengan dia, karena menurutku cinta hanyalah pikiran semata yang menyuruh hati untuk mencintai seseorang. Jadi kalau tidak memikirkannya sebagai sebuah tambatan cinta aku tidak akan pernah mencintai dia. Lagipula aku tahu didalam hatinya hanya ada satu wajah yaitu gadis tercantik disiang hari itu.
Aku bertekad untuk mengamatinya seharian ini. Mengetahui apa penyebab kegundahan hatinya dan juga aku ingin melihat gadis itu sekali lagi. Aku rindu sekali melihat kecantikannya yang walau siang itu hanya terlihat sekilas. Aku ingin melihatnya secara dekat dan meneliti setiap jengkal pesona wajahnya. Dengan semangat aku tebang mengikuti kemana langkahnya pergi. Langkahnya terhenti, senyumnya tersungging namun bukan senyum yang sama yang aku lihat tiga tahun lalu. Senyum yang ditarik seadanya hanya untuk menghormati temannya. Aku mencari kearah mana senyum itu tertuju. Ada seorang gadis yang membalas senyumannya dengan lambaian tangan dan senyum yang lebar. Tetapi bukan gadis yang aku cari, gadis manis pada siangku 3 tahun silam. Otakku kembali berputar siapa gadis ini....
Kamis, 16 Juni 2011
Waiting for Romance of Adrielle series
in the end of december,
quiet nights,
quiet stars..
and i'm here
Monday to Sunday,
cause you're fragile
and i'm weak
So you fall
when the nights grow longer
into sleep
you won't wake up
And i'm here
i'm sitting beside you
and i'll wait
until the spring
Don't you worry
i'll be there for you
don't worry about me
you know me better than that
don't you worry
i'll be there for you
i'll catch you if you would fall
So you drift
when the days grow colder
away from me
and won't look back
far away and i can't guide you
but i'm here
'til the spring
Senin, 13 Juni 2011
Romance of Adrielle Part 3
Setetes embun membangunkan dari tidur indahku. sinar matahari menyembul menyilaukan penglihatanku. aku mengerjap-kerjapkan kedua mataku, menggerutu dan menendang daun daun disitu. Tetapi kekesalanku terhenti melihat lelaki itu keluar dan mengeluarkan motornya. Aku segera terbang kearahnya dan aku mencari wajahnya, tapi hanya menemukan wajah kelabu seperti kemarin. Jelas bukan menunjukan kelelahan yang dapat dihapus oleh istirahat semalam namun karena ada satu alasan yang membuat hari-harinya terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya seperti buku menurutku, sangat menarik untuk dibahas dan ditelaah karena menyimpan banyak misteri didalamnya. Terkadang menyiratkan keteduhan hatinya, terkadang menyiratkan kepedihan yang dalam. Hatinya seperti samudra yang mendalam, butuh sedikit keberanian untuk menyelaminya bukan hanya berkecipak dalam permukaannya. Matanya tercemin seperti pelangi, pelangi yang mengandung banyak warna. Banyak piasan warna yang menyusunnya membentuk keindahan juga harapan. Ada juga matahari senja dan bintang bintang malam pada tatapan matanya. Menghanyutkan dan membuat penasaran. Seadainya ada yan bertanya mengenai mata siapa yang paling indah yang pernah aku lihat. Dengan tegas aku menjawab matanya. Telinganya aku yakin adalah telinga yang paling cantik. Bukan karena bentuk daunnya tapi karena kamu seorang pendengar yang baik. Sehingga berbicara denganmu adalah salah satu obat pelipur lara. Karena aku tau, dia selalu mendengarkan sepenuh hati. Tak pernah menampakkan wajah bosan atau meremehkan. Dan dia mendengarkan semua hal yang baik. Aku masih membayangkan, dia memiliki selera musik yang bagus. Mendengarkan curahan hati sahabatnya, tentang putus cinta atau tentang patah hati lalu cemburu bahkan pertengkaran. Senyumnya seperti kembang api yang membuncah ke angkasa, berani bertaruh senyumnya menularkan senyum untuk semua orang yang memandangnya membunuh semua dendam yang menyembul dalam hati. Apakah dirinya tahu betapa ajaibnya senyumnya yang kini sedang hilang entah kemana.
Apakah peri itu mulai jatuh cinta dengan lelaki itu dan, Apakah sang peri mampu mendapatkan misteri akan pertanyaan batinya sendiri?